Ekonomi Gelap Itu Nyata! 2 Negara Besar Ini Ambruk di 2023

Jakarta, CNBC Indonesia – Jerman dan China adalah dua negara dengan ekonomi yang terpuruk parah pada 2023. Hal ini tak lepas dari akumulasi berbagai situasi yang terjadi di internal maupun global.

Invasi serangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi di Eropa. Kawasan dengan tingkat Pendapatan Domestik Bruto (PDB) terbesar ke-3 dunia terancam mengalami “krisis ganda” walau berpotensi mampu menghindari dari risiko resesi.

Perang Rusia-Ukraina membuat Uni Eropa harus mengalami dua krisis sekaligus yakni krisis geopolitik dan ekonomi.

Sejumlah negara kuat di Uni Eropa bahkan mengalami kontraksi atau malah resesi. Belanda sudah mengalami resesi sementara Italia dan Swedia sudah mencatat kontraksi ekonomi pada kuartal II-2023. Jerman sebagai motor ekonomi Eropa mencatatkan pertumbuhan stagnan dan berdiri di jurang resesi.

EropaFoto: Pertumbuhan Ekonomi Eropa
Sumber: Trading Economics

Perjalanan Krisis Jerman dan China Sepanjang 2023:

Kuartal I-2023, Jerman Alami Resesi Teknikal

Perekonomian Jerman memasuki resesi teknis pada kuartal pertama tahun ini, karena rumah tangga memperketat pengeluaran.

Data dari kantor statistik Jerman pada hari Kamis menunjukkan revisi turun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari nol menjadi -0,3% untuk tiga bulan pertama tahun ini.

Hal ini terjadi setelah Jerman mencatat kontraksi sebesar 0,5% pada kuartal terakhir tahun 2022. Pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut menunjukkan resesi teknis.

Negara dengan perekonomian terbesar di Eropa ini berada di bawah tekanan yang signifikan, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina dan keputusan para pemimpin Eropa untuk memutuskan hubungan dengan Moskow.

Menurut kantor statistik, rumah tangga Jerman membelanjakan jauh lebih sedikit pada kuartal pertama, dengan pengeluaran konsumsi akhir turun 1,2% dibandingkan periode tersebut, karena konsumen enggan membelanjakan uang mereka untuk pakaian, perabotan, mobil, dan sebagainya

Inflasi yang tinggi terus menjadi salah satu tantangan utama di kawasan Jerman. Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa harga konsumen akan turun dalam beberapa bulan mendatang, namun kemungkinan besar masih berada di atas target Bank Sentral Eropa (ECB) sebesar 2% pada akhir tahun 2024.

Inflasi umum di kawasan euro, di mana 20 negara UE menggunakan mata uang yang sama, diperkirakan sebesar 5,6% pada tahun 2023 dan kemudian sebesar 2,9% pada akhir tahun 2024.

Juli, IMF Ramal Ekonomi China dan Jerman Memburuk

International Monetary Fund (IMF) meramalkan kondisi buruk bagi dua ekonomi besar dunia. China diperkirakan kehilangan potensi untuk tumbuh tinggi, sedangkan ekonomi Jerman akan lebih buruk dari proyeksi awal.

Laporan World Economic Outlook edisi Juli yang berjudul Near-Term Resilience, Persistent Challenges, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,0% untuk tahun ini. Proyeksi IMF 0,2% lebih tinggi dibandingkan proyeksi pada April (2,8%). IMF juga masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di angka 3,0% untuk 2024.

Penurunan pada tahun 2023 tidak hanya mencerminkan jalur permintaan global, tetapi juga pergeseran komposisinya ke arah jasa domestik, efek tertinggal dari apresiasi dolar AS-yang memperlambat perdagangan karena meluasnya penagihan produk dalam dolar AS-dan meningkatnya hambatan perdagangan.

China sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia pun mengalami dampaknya. Meskipun IMF masih mempertahankan proyeksi ekonomi China di angka 5,2% untuk 2023 dan 4,5% untuk 2024, namun setelah pelonggaran besar-besaran sejak akhir tahun lalu dengan mengurangi pembatasan terkait Covid-19 terjadi, potensi untuk tumbuh tinggi pun menjadi hilang.

Lebih lanjut, tidak seperti negara lainnya yang tertekan inflasi, China justru mengalami deflasi secara bulanan dan ke level nol secara year on year (yoy). Ini menjadi alarm peringatan berlanjutnya perlemahan permintaan. Salah satu alasannya adalah konsumen menunda pembelian mereka dengan harapan harga yang lebih rendah.

Beralih ke benua biru, Jerman menjadi negara yang menarik untuk dibahas karena Jerman merupakan satu-satunya negara yang akan terkontraksi di Uni Eropa. Pada tahun ini saja, ekonomi mereka terkontraksi -0,3%, produksi industri Jerman turun lebih dari yang diharapkan pada Maret 2023.

Data ini berbeda dibandingkan pertumbuhan yang kuat pada dua bulan sebelumnya, Januari dan Februari, dan lebih buruk dari perkiraan penurunan satu persen oleh analis yang disurvei oleh firma data keuangan FactSet.

Kabar tersebut muncul setelah data yang dirilis pekan lalu menunjukkan anjloknya pesanan baru di pabrik-pabrik Jerman. Industri otomotif merupakan kontributor utama penurunan bulan Maret, di mana pembuatan kendaraan dan suku cadang turun 6,5%. Padahal pada Februari sebelumnya, Jerman mengalami kenaikan 6,9%.

Agustus, Properti Raksasa (Evergrande) China Bangkrut

Evergrande resmi bangkrut pada Kamis (17/8/2023). Raksasa properti asal China pailit setelah mengalami gagal bayar sekitar US$300 miliar atau sekitar Rp4.650 triliun (kurs Rp15.500) pada tahun 2021 lalu baik ke bank, pemegang obligasi, pemasok, dan pelanggan.

Laporan CNN International menyebut Evergrande mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 15, yang memungkinkan pengadilan Amerika Serikat (AS) untuk turun tangan ketika kasus kebangkrutan melibatkan negara lain.

Evergrande bukan satu-satunya perusahaan yang alami gagal bayar dan berujung bangkrut. Sejak keruntuhan perusahaan ini, beberapa pengembang besar lainnya di China yang telah gagal membayar utang mereka.

Salah satunya adanya perusahaan Kaisa Group Holdings yang sejak 2021 terancam tak bisa membayar utang dan bangkrut.

Oktober, Raksasa China Susah Bayar Utang

Raksasa properti China, Country Garden memberi peringatan Selasa (10/10/2023). Perusahaan blak-blakan menyebut tidak mampu memenuhi kewajiban utang luar negerinya.

Mengutip Reuters, situasi ini berpotensi membuat pengembang properti itu gagal bayar. Country Garden memang belum default meski namun telah melewatkan pembayaran kupon beberapa obligasi dolar sejak bulan lalu dan menghadapi akhir masa tenggang 30 hari untuk melakukan pembayaran yang dimulai minggu depan.

Country Garden pun akhirnya gagal membayar bunga atas surat utang senilai US$500 juta atau sekitar Rp7,75 triliun yang jatuh tempo pada tahun 2025.

Batas waktu, termasuk masa tenggang 30 hari setelah melewati tenggat waktu awal 17 September, untuk membayar bunga sebesar US$15,4 juta atau Rp238,7 miliar telah berlalu minggu lalu. Oleh karena itu, peristiwa tersebut merupakan peristiwa gagal bayar.

Peringatan Country Garden memperlihatkan tekanan likuiditas yang belum pernah terjadi sebelumnya di sektor properti China, yang menyumbang sekitar seperempat perekonomian. Ini juga melemahkan penjualan, sehingga mengaburkan prospek bagi para pengembang.

Desember, Utang China 6 Kali Lipat Indonesia

Total Utang Luar Negeri (ULN) China pada 2022 tercatat sebesar US$2.388,74 miliar atau sekitar Rp37.025 triliun. Sebagai perbandingan, angka tersebut jauh di atas utang Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$ 392,2 miliar atau Rp 6.068 triliun (Rp 15.480).

Dalam Laporan Utang Internasional 2023 yang dirilis oleh Bank Dunia menunjukkan ULN China pada 2022 relatif mirip dengan tahun 2020 dan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan 2021. Pada 2021, ULN jangka pendek dan jangka panjang masing-masing berada di angka US$1.446,22 miliar dan US$1.205,34.

DBS menilai bahwa China akan mengalami soft landing di 2024 setelah tiga tahun deleveraging di sektor properti. Tiga risiko lunak yang akan dihadapi China yakni rumah yang belum selesai (unfinished homes), utang pemerintah daerah, dan risiko geopolitik. https://bermimpilahlagi.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*