Malapetaka Utang AS dan ‘Hukuman’ Reputasi Kredit Paman Sam

Jakarta, CNBC Indonesia¬†– Mimpi buruk bagi ekonomi Amerika Serikat (AS) sejak dihantam pandemi dan meroketnya inflasi dalam beberapa tahun terakhir berlanjut pada 2023. Hal ini ditandai oleh ‘hukuman’ yang dijatuhkan sejumlah lembaga pemeringkat terkait utang Negeri Paman Sam.

Pukulan telak tersebut dilayangkan pada 1 Agustus lalu ketika lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan peringkat kredit AS dari AAA menjadi AA+.

Kendati outlook stabil masih tersemat bagi surat utang AS tersebut, penurunan peringkat itu menjadi pil pahit bagi negara yang tengah berjibaku dengan utang yang kala itu mencapai US$31 triliun dan kini kian bengkak menembus US$33 triliun.

Pasalnya, AS telah nyaman dengan peringkat AAA tersebut setidaknya sejak 1994. Penurunan ini pun jadi yang pertama dilakukan Fitch kepada AS yang harus merelakan status peringkat tertinggi.

Penurunan peringkat ini bukan tanpa alasan. Yang paling kentara adalah pagu utang AS yang jebol pada tahun ini.

“Penurunan peringkat AS mencerminkan penurunan fiskal yang diyakini akan terjadi selama tiga tahun ke depan, beban utang pemerintah tinggi dan terus meningkat, dan erosi tata kelola relatif terhadap negara-negara lain yang berperingkat ‘AA’ dan ‘AAA’ dalam dua dekade terakhir yang telah tercermin dalam kebuntuan batas utang yang berulang-ulang dan resolusi di saat-saat terakhir,” kata pernyataan lembaga itu.

Sinyal ‘hukuman’ dari Fitch ini pun sejatinya sudah terlihat sejak Mei 2023. Kala itu, Fitch memberi tanda waspada, “rating watch negative”, ke surat utang AS. Peningkatan masalah politik yang telah menghambat resolusi untuk menaikkan atau menangguhkan batas utang menjelang tenggat waktu yang semakin dekat, pun disebut sebagai penyebab.

“Dalam pandangan Fitch, telah terjadi kemerosotan yang stabil dalam standar tata kelola selama 20 tahun terakhir, termasuk masalah fiskal dan utang,” kata lembaga tersebut lagi.

“Ketegangan politik batas utang berulang dan resolusi menit terakhir telah mengikis kepercayaan pada manajemen fiskal,” tambah Fitch.

Lembaga itu kemudian juga mengatakan pemerintah AS tidak memiliki kerangka fiskal jangka menengah. Di mana hanya ada kemajuan terbatas, mengatasi tantangan jangka menengah terkait dengan meningkatnya biaya jaminan sosial AS dan Medicare karena populasi yang menua.

Kenangan Buruk dari S&P

Pemangkasan rating juga dilakukan Standard & Poor’s (S&P) pada 2011 dari AAA ke AA+.
Sama dengan Fitch, S&P juga memangkas surat utang AS karena persoalan plafon utang pemerintah AS. AS dinilai tidak mampu mengembangkan rencana yang kredibel dalam menangani utang jangka panjang.

Pada saat itu, S&P Global Rating melihat rencana konsolidasi fiskal yang disetujui kongres dan pemerintah baru-baru ini kurang. S&P berpandangan bahwa diperlukan cara untuk menstabilkan dinamika utang jangka menengah pemerintah.

“Lebih luas lagi, penurunan peringkat mencerminkan pandangan kami bahwa efektivitas, stabilitas, dan prediktabilitas pembuatan kebijakan dan institusi politik Amerika telah melemah pada saat tantangan fiskal dan ekonomi yang sedang berlangsung ke tingkat yang lebih dari yang kami perkirakan ketika kami menetapkan prospek negatif untuk peringkat tersebut pada 18 April 2011” dalam pernyataan S&P Global Rating.

‘Tamparan’ Moody’s

Sementara itu, tamparan juga diberikan Moody’s Investors Service pada November lalu yang menurunkan prospek peringkat utang pemerintah AS menjadi negatif dari stabil, merujuk pada meningkatnya risiko terhadap kekuatan fiskal negara tersebut.

Namun, lembaga pemeringkat telah mengafirmasi peringkat penerbit jangka panjang dan senior tanpa jaminan AS di Aaa.

“Dalam konteks suku bunga yang lebih tinggi, tanpa langkah-langkah kebijakan fiskal yang efektif untuk mengurangi pengeluaran pemerintah atau meningkatkan pendapatan,” kata lembaga pemeringkat tersebut.

“Moody’s memperkirakan defisit fiskal AS akan tetap sangat besar, sehingga secara signifikan melemahkan keterjangkauan utang.”

Sikap ‘brinkmanship’ atau tindakan yang mengejar kebijakan berbahaya di Washington juga menjadi faktor penyebabnya, menurut Moody’s. Polarisasi politik yang berkelanjutan di Kongres AS meningkatkan risiko bahwa pemerintahan berikutnya tidak akan mampu mencapai konsensus mengenai rencana fiskal untuk memperlambat penurunan keterjangkauan utang.

Ketika mempertahankan peringkat negaranya pada Aaa, Moody’s memperkirakan AS akan mempertahankan kekuatan ekonominya yang luar biasa.

“Kejutan pertumbuhan positif lebih lanjut dalam jangka menengah setidaknya bisa memperlambat penurunan keterjangkauan utang,” kata badan tersebut.

Respons Pemerintah AS

Sementara itu, laporan Fitch pada Agustus lalu ditentang mentah-mentah oleh Gedung Putih. Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan ia sangat tidak setuju dengan keputusan Fitch.

“Sewenang-wenang dan berdasarkan data yang sudah ketinggalan zaman,” tegasnya.

“Sekuritas treasury tetap menjadi aset aman dan likuid terkemuka di dunia, dan ekonomi Amerika secara fundamental kuat,” tambahnya.

Gedung Putih juga menunjukan ketidakpuasannya terhadap langkah Fitch. Sekretaris pers Kantor Kepresidenan AS, Karine Jean-Pierre, bahkan mengatakan langkah ini merupakan manuver yang ‘menentang kenyataan’.

“Kami sangat tidak setuju dengan keputusan ini,” katanya.

Terkait langkah Moody’s, Wakil Menteri Keuangan Wally Adeyemo buka suara dengan menegaskan pihaknya tidak setuju dengan pandangan Moody’s.

“Meskipun pernyataan Moody’s mempertahankan peringkat Aaa Amerika Serikat, kami tidak setuju dengan pergeseran ke pandangan negatif,” kata Adeyemo dalam sebuah pernyataan.

“Perekonomian Amerika tetap kuat, dan surat utang negara merupakan aset paling aman dan likuid di dunia,” tegasnya. https://bersiaplah.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*