Puncak Kasus DBD Diprediksi April

Jika Demam Periksa Ke Puskesmas, Cek Darah

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono. (Foto: Pemprov DKI Jakarta)
Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono. (Foto: Pemprov DKI Jakarta)

RM.id  Rakyat Merdeka – Puncak Demam Berdarah Dengue (DBD) diprediksi terjadi pada April. Hal itu terjadi lantaran munculnya genangan akibat intensitas hujan untuk tempat perindukan nyamuk. Kelembaban udara tinggi saat musim hujan juga membuat nyamuk Aedes aegypti lebih mudah berkembang biak.

Untuk mengantisipasi puncak DBD pada April 2024, praktisi kesehatan masyarakat Ngabila Salama mengimbau masyarakat menggencarkan aksi Pemberan­tasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) Plus.

“Menjaga kebersihan lingkungan, pakai lotion antinyamuk atau semprotan nyamuk dan juga vaksinasi,” kata Ngabila, Jumat (22/3/2024).

Kepala Seksi Pelayanan Me­dik dan Keperawatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ta­mansari Jakarta ini mengatakan, lonjakan kasus DBD sudah mu­lai terlihat. Saat ini, kasus DBD meningkat di seluruh kelompok umur, tapi tetap lebih banyak pada anak usia SD dan SMP.

“Ada 6 kasus anak dan 2 de­wasa dengan diagnosis DBD dirawat RSUD Tamansari. Kondisi masih aman dan terkendali,” ujarnya.

Meski begitu, Ngabila me­nyarankan warga menggencarkan G1R1J atau Gerakan 1 Rumah 1 Kader Jumantik, dengan menunjuk petugas PSN di rumah dan melakukannya dengan prin­sip 3×10 setiap Jumat pagi.

“Apa itu 3×10? Jam 10 pagi, selama 10 menit, selama minimal 10 minggu melakukan G1R1J,” jelasnya.

Kenapa jam 10 pagi? Kata Ngabila, karena nyamuk DBD aktif pada pagi hari, dari pukul 08.00-10.00 WIB dan sore hari pukul 15.00-17.00 WIB. Jika ada anggota keluarga yang mengalami demam dan tidak membaik selama 2 hari, dia menganjurkan agar segera dibawa ke Puskesmas terdekat.

“Periksa ke dokter gratis. Jika perlu dilakukan pemeriksaan da­rah untuk deteksi dini,” ucapnya.

Ngabila mengungkapkan, pada orang dewasa gejala DBD seperti infeksi virus lainnya, yakni demam tinggi di atas 39 derajat, demam naik turun, nyeri belakang mata, pegal sendi dan otot, mual dan muntah.

“Pada anak gejala bisa tidak khas seperti muncul gejala infeksi saluran cerna dan napas: batuk, pilek, diare, sulit buang air besar. Beberapa juga bisa infeksi cam­puran dengan tipes,” bebernya.

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono me­ngatakan, Puskesmas, lurah, ca­mat dan jajaran wilayah lainnya, terus berupaya mengatasi DBD. Tujuannya, agar tidak semakin banyak jumlah penderita DBD.

Agar upaya tersebut berjalan maksimal, Heru meminta para orang tua berperan aktif dengan menjaga anak-anak dari terjang­kit DBD.

“Bulan ini rawan DBD. Anak-anak keluar rumah pakai lengan panjang dan minyak telon,” imbau Heru.

Mantan Wali Kota Jakarta Utara ini juga mengimbau mas­yarakat menerapkan PSN 3M Plus dan meningkatkan daya tahan tubuh untuk mencegah penyakit DBD.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, selama periode Januari sampai Februari 2024, ada 627 kasus DBD di Jakarta.

Rinciannya, Jakarta Barat 208 kasus, Jakarta Timur 161 kasus, Jakarta Selatan 145 kasus, Jakarta Utara 74 kasus, Jakarta Pusat 34 kasus dan Kabupaten Kepulauan Seribu sebanyak lima kasus.https://roketgubuk.com/wp-admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*